+6285-338-491-677 [email protected]
Spread the love

Mataram, 17 September 2026 - Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menghadirkan orasi ilmiah dalam rangka Wisuda ke-63 Periode September 2026 dengan mengangkat isu strategis mengenai inovasi teknologi pertanian dan ketahanan pangan. Orasi ilmiah tersebut disampaikan oleh Dr. Erni Romansyah, S.TP., M.Sc., Dosen Program Studi Teknik Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram, dengan tema “Rekayasa Teknologi Pascapanen Cabai Rawit melalui Kombinasi Modified Atmosphere Packaging (MAP) dan Coating Minyak Serai sebagai Upaya Mendukung Ketahanan Pangan.”
Dalam orasinya, Dr. Erni Romansyah mengajak hadirin melihat ketahanan pangan tidak hanya dari kemampuan menghasilkan pangan dalam jumlah besar, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan mutu hasil pertanian setelah dipanen. Menurutnya, proses pertanian tidak berhenti ketika hasil keluar dari lahan karena produk hortikultura masih mengalami proses respirasi, kehilangan air, perubahan warna dan tekstur, serta menghadapi risiko kerusakan akibat mikroorganisme.
Ia menjelaskan, persoalan pascapanen sering kali menjadi salah satu mata rantai yang menentukan keberhasilan sistem pangan secara keseluruhan. Produk yang dihasilkan dengan baik di tingkat budidaya dapat mengalami penurunan nilai apabila tidak ditangani melalui metode penyimpanan dan pengemasan yang tepat. Karena itu, inovasi pascapanen perlu dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik komoditas, kondisi lingkungan, kebutuhan pasar, serta kemampuan teknologi untuk diterapkan oleh pelaku usaha.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah cabai rawit (Capsicum frutescens L.). Komoditas ini memiliki posisi penting dalam pertanian Indonesia karena produksi dan permintaannya relatif tinggi. Cabai rawit tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan rumah tangga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam industri kuliner, pengolahan pangan, dan perdagangan antardaerah.
Berdasarkan data yang dikutip dalam orasi, produksi cabai rawit Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 1,57 juta ton, sementara konsumsi rumah tangga juga menunjukkan peningkatan hingga 2,227 kg/kapita/tahun pada 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa cabai rawit memiliki peran penting dalam pola konsumsi masyarakat sekaligus memiliki nilai ekonomi yang besar bagi petani dan pelaku usaha.
Namun, tingginya produksi tidak selalu menjamin ketersediaan cabai dengan mutu yang baik sepanjang waktu. Pada periode panen raya, melimpahnya pasokan dapat menyebabkan harga turun, sedangkan ketika produksi menurun, harga dapat meningkat tajam. Fluktuasi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah produksi, tetapi juga oleh sifat cabai rawit yang mudah mengalami kerusakan dan memiliki umur simpan relatif pendek.
Cabai rawit yang telah dipanen tetap melakukan aktivitas fisiologis. Proses respirasi terus berlangsung dan dapat menyebabkan perubahan warna, pelunakan jaringan, penyusutan bobot, serta penurunan kandungan gizi. Apabila kondisi penyimpanan tidak sesuai, pertumbuhan mikroorganisme juga dapat berlangsung lebih cepat sehingga memperbesar potensi kehilangan hasil.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya teknologi pascapanen untuk mempertahankan produk agar tetap tersedia dan bermutu setelah dipanen. Teknologi pascapanen diharapkan mampu memperpanjang umur simpan, mengurangi kerusakan selama penyimpanan dan distribusi, serta memberikan waktu yang lebih panjang bagi petani dan pedagang untuk memasarkan produk tanpa harus menjualnya dalam kondisi tertekan oleh waktu.
Dalam menjawab persoalan tersebut, penelitian yang dipaparkan Dr. Erni berfokus pada penggunaan Modified Atmosphere Packaging (MAP) yang dikombinasikan dengan pretreatment minyak serai. MAP merupakan teknologi pengemasan yang mengatur kondisi atmosfer di sekitar produk melalui keseimbangan antara respirasi produk dan pertukaran gas pada bahan kemasan.
Pengaturan oksigen dan karbon dioksida tersebut ditujukan untuk menekan laju respirasi sehingga proses penurunan mutu dapat diperlambat. Dengan kondisi atmosfer yang lebih terkendali, cabai diharapkan dapat mempertahankan karakteristik fisik dan kimianya dalam waktu yang lebih lama dibandingkan penyimpanan tanpa perlakuan khusus.
Dalam penerapannya, teknologi MAP tidak dapat dipisahkan dari pemilihan bahan kemasan. Setiap bahan memiliki karakteristik permeabilitas yang berbeda terhadap oksigen, karbon dioksida, dan uap air. Perbedaan tersebut akan memengaruhi kondisi atmosfer di dalam kemasan, sehingga pemilihan jenis dan ketebalan kemasan harus disesuaikan dengan laju respirasi cabai serta suhu penyimpanan.
Penelitian tersebut juga mengkaji berbagai parameter penting, antara lain jenis dan ketebalan bahan kemasan, suhu penyimpanan, permeabilitas oksigen dan karbon dioksida, laju respirasi, perubahan mutu cabai, serta penggunaan minyak serai sebagai bahan alami untuk pretreatment. Pendekatan tersebut digunakan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai rancangan sistem penyimpanan cabai rawit.
Menurut Dr. Erni, pengembangan sistem penyimpanan tidak cukup hanya dengan menguji satu jenis kemasan atau satu kondisi suhu. Diperlukan analisis yang menghubungkan karakteristik bahan kemasan dengan respons biologis produk. Dengan demikian, teknologi yang dihasilkan dapat dirancang secara lebih terukur dan memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah nilai β, yaitu rasio permeabilitas karbon dioksida terhadap oksigen pada bahan kemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai β pada kemasan PP berada pada kisaran 0,77–1,71, sedangkan pada LDPE berada pada kisaran 0,16–2,98. Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik bahan kemasan memiliki peranan penting dalam membentuk kondisi gas di dalam kemasan.
Perbedaan nilai tersebut juga memperlihatkan bahwa setiap bahan kemasan memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengatur pertukaran gas. Kondisi ini menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kombinasi antara jenis kemasan, ketebalan, suhu penyimpanan, dan karakteristik cabai yang akan dikemas. Kesalahan dalam memilih kemasan dapat menyebabkan akumulasi gas yang tidak sesuai atau meningkatkan risiko kondensasi di dalam kemasan.
Selain MAP, penggunaan minyak serai dalam penelitian tersebut menunjukkan potensi sebagai bahan alami untuk membantu mempertahankan mutu cabai. Minyak serai dipertimbangkan karena memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan efek antimikroba dan membantu menghambat proses kerusakan pada permukaan produk.
Hasil penelitian yang dipaparkan menunjukkan bahwa pretreatment minyak serai dapat membantu menekan laju respirasi, memperlambat kehilangan berat, mempertahankan kekerasan, menjaga kestabilan warna dan kandungan vitamin C, serta menekan pertumbuhan mikroorganisme selama penyimpanan. Perlakuan tersebut menjadi salah satu alternatif yang menarik karena memanfaatkan bahan alami dan dapat dikembangkan sebagai bagian dari sistem penanganan pascapanen yang lebih ramah lingkungan.
Meski demikian, Dr. Erni menekankan bahwa penggunaan bahan alami tetap perlu memperhatikan konsentrasi, metode aplikasi, keamanan pangan, serta kemungkinan pengaruhnya terhadap aroma dan penerimaan konsumen. Setiap perlakuan harus diuji secara menyeluruh agar manfaatnya tidak hanya terlihat dari sisi teknis, tetapi juga memenuhi persyaratan mutu dan keamanan produk pangan.
Penelitian tersebut kemudian dikembangkan melalui pendekatan pemodelan matematis. Analisis kinetika dan model Arrhenius digunakan untuk menggambarkan perubahan mutu akibat suhu, sementara analisis dimensi digunakan untuk mengembangkan model laju respirasi dan permeabilitas. Pendekatan pemodelan ini memungkinkan peneliti memperkirakan perubahan mutu dan umur simpan pada kondisi penyimpanan yang berbeda.
Hasil pemodelan menunjukkan nilai R² lebih dari 0,95 pada model Arrhenius, sedangkan model laju respirasi dan permeabilitas berbasis analisis dimensi menghasilkan R² lebih dari 0,96. Nilai tersebut menunjukkan tingkat kesesuaian yang tinggi antara hasil prediksi model dan data penelitian.
Pemodelan matematis juga memiliki manfaat praktis dalam pengembangan teknologi pascapanen. Dengan model yang telah divalidasi, pelaku usaha dapat memperkirakan umur simpan produk tanpa harus melakukan pengujian berulang untuk setiap kombinasi kondisi. Model tersebut dapat menjadi alat bantu dalam menentukan suhu penyimpanan, jenis kemasan, serta strategi distribusi yang lebih efisien.
Salah satu hasil yang dipaparkan menunjukkan bahwa pada penyimpanan suhu 5°C, kemasan LDPE dengan ketebalan 50 μm memberikan prediksi umur simpan sekitar 21 hari, sedangkan kemasan PP dengan ketebalan yang sama memberikan prediksi umur simpan sekitar 15 hari. Hasil tersebut menggambarkan bagaimana kombinasi karakteristik kemasan dan kondisi penyimpanan dapat digunakan dalam perancangan teknologi untuk memperpanjang umur simpan cabai rawit.
Perbedaan umur simpan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan kemasan bukan sekadar persoalan bahan yang mudah diperoleh atau murah digunakan. Kemasan harus dipilih berdasarkan kemampuan teknisnya dalam menciptakan kondisi penyimpanan yang sesuai dengan karakteristik produk. Dalam konteks cabai rawit, kemampuan kemasan dalam mengatur pertukaran gas dan mempertahankan kelembapan menjadi faktor yang sangat penting.
Suhu penyimpanan juga menjadi komponen penting dalam sistem tersebut. Suhu yang lebih rendah dapat membantu memperlambat aktivitas fisiologis dan pertumbuhan mikroorganisme, tetapi penerapannya tetap harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya kerusakan akibat suhu terlalu rendah, kebutuhan energi, serta ketersediaan fasilitas rantai dingin.
Menurut Dr. Erni, tambahan umur simpan bukan sekadar persoalan memperpanjang waktu penyimpanan. Waktu yang lebih panjang dapat memberikan ruang bagi proses distribusi, pemasaran, dan konsumsi dalam kondisi mutu yang lebih baik. Teknologi pascapanen dengan demikian berkaitan erat dengan upaya mengurangi kehilangan hasil, mempertahankan mutu, menjaga nilai ekonomi produk, serta mendukung ketersediaan pangan.
Perpanjangan umur simpan juga dapat membantu mengurangi tekanan penjualan pada saat panen raya. Petani dan pelaku usaha memiliki peluang untuk mengatur waktu pemasaran secara lebih baik, sehingga produk tidak seluruhnya harus dilepas ke pasar dalam waktu bersamaan. Pada akhirnya, kondisi tersebut berpotensi membantu menciptakan sistem perdagangan yang lebih stabil dan mengurangi pemborosan pangan.
Dalam perspektif yang lebih luas, Dr. Erni menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pangan yang mampu diproduksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga hasil produksi tersebut. Produksi yang tinggi perlu diikuti kemampuan mempertahankan mutu, mengurangi kehilangan pascapanen, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memastikan pangan tetap tersedia ketika dibutuhkan.
Ketahanan pangan juga berkaitan dengan keterjangkauan dan keberlanjutan. Pangan yang tersedia dalam jumlah besar tetapi mengalami kerusakan sebelum sampai kepada konsumen tetap menjadi persoalan. Oleh karena itu, teknologi pascapanen perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari pembangunan sistem pangan, bukan sekadar tahap tambahan setelah proses produksi selesai.
Ia juga menempatkan Teknik Pertanian sebagai bidang ilmu yang memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai persoalan pertanian. Menurutnya, Teknik Pertanian tidak sebatas mesin dan peralatan, tetapi mempertemukan prinsip keteknikan dengan sistem pertanian, mulai dari pengelolaan sumber daya, produksi, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi hasil pertanian.
Dalam konteks penelitian cabai rawit, peran Teknik Pertanian terlihat melalui integrasi berbagai bidang, seperti rekayasa proses, ilmu bahan, fisiologi pascapanen, mikrobiologi, pemodelan matematis, dan manajemen rantai pasok. Integrasi tersebut diperlukan karena persoalan pertanian bersifat kompleks dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu pendekatan.
Pengembangan teknologi juga perlu mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. Teknologi yang berhasil di laboratorium belum tentu langsung dapat diterapkan oleh petani atau pelaku usaha apabila membutuhkan biaya tinggi, peralatan khusus, atau keterampilan yang sulit diperoleh. Karena itu, aspek kelayakan ekonomi, kemudahan penggunaan, ketersediaan bahan, dan kesesuaian dengan skala usaha perlu menjadi bagian dari proses pengembangan.
Ke depan, pengembangan teknologi pertanian diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan efisiensi, pengurangan kehilangan pascapanen, pemeliharaan mutu, penciptaan nilai tambah, serta keberlanjutan sumber daya pertanian. Dr. Erni juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin agar inovasi yang dikembangkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kolaborasi tersebut dapat melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, petani, pelaku industri, koperasi, distributor, serta masyarakat sebagai konsumen. Perguruan tinggi berperan dalam menghasilkan pengetahuan dan inovasi, sementara pelaku usaha membantu menguji penerapan teknologi dalam kondisi nyata. Pemerintah dapat mendukung melalui kebijakan, pendampingan, standardisasi, dan penguatan infrastruktur pascapanen.
Selain itu, pengembangan teknologi pascapanen perlu diarahkan pada pemanfaatan sumber daya lokal. Penggunaan bahan alami seperti minyak serai dapat menjadi contoh bagaimana potensi daerah dikembangkan menjadi bagian dari solusi teknologi. Pendekatan tersebut tidak hanya mendukung keberlanjutan, tetapi juga berpotensi membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Menutup orasinya, Dr. Erni Romansyah menyampaikan pesan kepada para wisudawan dan wisudawati UMMAT agar menjadikan persoalan nyata di tengah masyarakat sebagai ruang untuk terus belajar dan menemukan solusi. Ilmu pengetahuan, menurut pesan yang disampaikannya, diharapkan menjadi dasar untuk menghadirkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa lulusan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Tantangan di bidang pangan, pertanian, lingkungan, dan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, bekerja lintas bidang, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan ekonomi.
Orasi ilmiah tersebut menjadi bagian dari rangkaian Wisuda ke-63 Universitas Muhammadiyah Mataram Periode September 2026, sekaligus memperlihatkan peran akademisi dalam menghubungkan hasil penelitian dengan persoalan nyata di bidang pertanian, khususnya dalam menjaga mutu hasil pertanian dan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.
Melalui penelitian mengenai kombinasi MAP dan pretreatment minyak serai, Dr. Erni Romansyah menunjukkan bahwa inovasi pascapanen dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat sistem pangan. Inovasi tersebut tidak hanya berfokus pada bagaimana produk dapat disimpan lebih lama, tetapi juga bagaimana hasil pertanian dapat dipertahankan nilainya, didistribusikan secara lebih efisien, dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
@adminfaperta

Spread the love
Dead Spin Mahjong Wins 2Volatilitas Dead Spin Mahjong Wins 3Probabilitas Mix Parlay 10 TimScatter Starlight Princess 1000Black Scatter 60 PutaranSimbol Black ScatterSistem Tumble Sweet BonanzaReel Adaptif dan Pengalaman MobileDesain Visual Starlight PrincessDinamika Mahjong Wins 3Distribusi Simbol Reel DigitalPerubahan Tempo Gates of OlympusVariasi Hasil Setiap PutaranStabilitas Transisi Real-TimeEfek Visual MultiplierSinkronisasi Real-Time Gates of OlympusAnimasi Multiplier Starlight PrincessCascade Bertingkat Mahjong WaysDesain Responsif Sweet BonanzaEvolusi Platform Permainan DigitalStatistik dan Pengalaman PenggunaDesain Mobile Permainan DigitalFitur Baru Mahjong Ways 2Cascade dan MultiplierFrekuensi Simbol dan ProbabilitasEvolusi Mahjong DigitalSuper Scatter dan Kecepatan FramePower of Thor MegawaysPopularitas Buffalo King MegawaysTempo Gates of Olympus
Sistem Variabel MegawaysAudio Visual Gates of OlympusProbabilitas dan Distribusi MultiplierPopularitas Mahjong WaysStatistik dan Pengalaman PenggunaTransformasi Baccarat DigitalKomunitas Gamer dan Turnamen OnlineDesain Starlight PrincessPendekatan Alternatif Mahjong Ways 2Respons Visual Mahjong WaysDesain Mobile Permainan DigitalFitur Mahjong Ways 2Cascade dan MultiplierFrekuensi Simbol dan ProbabilitasEvolusi Mahjong DigitalMekanisme Mahjong Ways 2Dinamika Bonanza GoldPerbandingan Mahjong Ways 2 dan Edisi PertamaDesain Bonanza GoldVisual dan Fitur Bonanza GoldScatter Mahjong Ways 100 PutaranVolatilitas dan IntervalStabilitas Sistem pada Fase KritisVisual Nusantara Mahjong Ways 2Kecepatan Spin Gates of OlympusPopularitas Mahjong Ways di IndonesiaGame Bertema Asia dan Mahjong WaysMahjong Ways 2 sebagai Ikon Game OrientalIndustri Kasino Online dan Transformasi DigitalMobile Gaming dan Mahjong WaysReel Dinamis Mahjong Ways 2Animasi Gates of OlympusCascade Mahjong WaysVisual Starlight PrincessMultiplier Real Time Sweet Bonanza
Fase Multiplier dan Tempo SpinPerubahan Mahjong Ways 2Pola Scatter Mahjong Ways 2Lima Game PopulerAnalisis 1.000 Putaran Mahjong WaysTempo Spin Mahjong WaysTampilan Modern Mahjong Ways 2Mahjong Ways 1 vs Mahjong Ways 2Popularitas Mahjong WaysIndustri Gaming Asia dan Mahjong WaysBudaya Klasik dan Teknologi Mahjong WaysKomunitas Mobile Mahjong WaysVolatilitas dan RTP Game DigitalAI dan Sistem RTPAI untuk Transparansi PermainanTeknologi PG Soft dan Gaming MobileAnalisis Data Visual Permainan DigitalEvolusi Gates of OlympusMultiplier Gates of OlympusInterval Putaran Gates of OlympusPopularitas Sweet BonanzaVisual Sweet BonanzaTreasures of AztecTren Game Mobile 2026Perubahan Cara Menikmati Game OnlineKomunitas Gaming AsiaMasa Depan Gaming DigitalMemulihkan Kepercayaan Diri setelah KekalahanMenjaga Fokus dan Mengendalikan EmosiRitme Santai Sweet BonanzaSlow Spin Gates of OlympusAnggaran Bermain Gates of OlympusDurasi Sesi Starlight PrincessAnggaran Sesi Mahjong WaysStatistik Pola Kartu BaccaratPeluang Permainan MejaAturan Perjudian DaringKomunitas Pemain Kartu Daring IndonesiaPerubahan Kebiasaan Mengisi Waktu LuangEvolusi Roda Roulette