Mataram, 11 September 2026 - Momen Yudisium Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram (FAPERTA UMMAT) Periode September 2026 menjadi semakin istimewa dengan hadirnya sosok Abdul Faruk (10/11/2026), mahasiswa Program Studi Teknik Pertanian yang tidak hanya dikenal aktif dalam organisasi dan kegiatan pengabdian masyarakat, tetapi juga berhasil menorehkan prestasi akademik sebagai Mahasiswa Terbaik I FAPERTA UMMAT dari Program Studi Teknik Pertanian dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,66.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kesibukan di luar ruang perkuliahan bukanlah penghalang untuk meraih prestasi akademik. Selama menjalani masa pendidikan, Abdul Faruk aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan organisasi. Ia tercatat sebagai demisioner Ketua BEM FAPERTA UMMAT, sekaligus menjadi salah satu penggerak estafet kegiatan pengabdian masyarakat melalui FBTV FAPERTA UMMAT.
Aktivitas organisasi dan pengabdian yang dijalani tidak membuat Abdul Faruk mengesampingkan kewajibannya sebagai mahasiswa. Justru, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap masyarakat. Ia mampu membuktikan bahwa aktivitas organisasi dapat berjalan beriringan dengan pencapaian akademik apabila dikelola dengan komitmen dan tanggung jawab.
Prestasi sebagai Mahasiswa Terbaik I dengan IPK 3,66 sekaligus menunjukkan konsistensinya dalam menjalani proses pendidikan. Di tengah berbagai aktivitas yang menuntut waktu, tenaga, dan pikiran, Abdul Faruk tetap mampu menyelesaikan pendidikan dengan capaian akademik yang membanggakan.
Dalam momentum yudisium tersebut, Abdul Faruk juga dipercaya menyampaikan pesan dan kesan sebagai perwakilan calon wisudawan. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh teman seperjuangan untuk menjadikan perjalanan selama empat tahun di Fakultas Pertanian sebagai pengalaman berharga yang tidak hanya memberikan ilmu akademik, tetapi juga pelajaran tentang kehidupan.
Menurut Abdul Faruk, empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama berada di Fakultas Pertanian, mahasiswa telah melewati berbagai proses, mulai dari menghadapi tugas akademik, tantangan perkuliahan, diskusi, praktikum, penelitian, hingga berbagai kegiatan organisasi dan pengabdian masyarakat. Seluruh pengalaman tersebut, menurutnya, akan menjadi bagian dari perjalanan hidup yang suatu saat akan selalu dikenang.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh dosen yang telah membimbing, mendidik, dan memberikan ilmu dengan penuh kesabaran. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh civitas akademika FAPERTA UMMAT yang telah memberikan pelayanan, dukungan, serta menjadi bagian dari perjalanan mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam penyampaian Abdul Faruk adalah ketika ia menyampaikan pesan dari orang tuanya. Ia mengungkapkan pesan sederhana yang memiliki makna sangat dalam, yaitu agar anak-anaknya tidak mengalami keterbatasan pendidikan seperti yang pernah dialami oleh orang tuanya.
“Ada pesan dari orang tua saya, cukup kami yang tidak tahu apa-apa karena tidak tuntas dengan pendidikan, jangan lagi kalian,” ungkapnya.
Bagi Abdul Faruk, kalimat tersebut menjadi sumber motivasi yang kuat. Orang tua mungkin tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi, tetapi harapan mereka akhirnya diwujudkan oleh anak-anaknya. Hari ini, pesan tersebut mengantarkan Abdul Faruk berdiri sebagai seorang sarjana Teknologi Pertanian sekaligus meraih penghargaan sebagai Mahasiswa Terbaik I FAPERTA UMMAT dari Program Studi Teknik Pertanian.
Kepada teman-teman seperjuangannya, Abdul Faruk mengingatkan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Setelah meninggalkan bangku kuliah, para lulusan dituntut untuk mampu menentukan arah dan membuktikan manfaat dari ilmu yang telah diperoleh selama berada di lingkungan akademik.
Ia juga mengajak para lulusan agar tidak hanya memiliki orientasi untuk mencari pekerjaan, tetapi berani menjadi pencipta lapangan pekerjaan. Sebagai insan pertanian, menurutnya, terdapat ruang yang sangat luas untuk berinovasi, mengembangkan potensi sumber daya alam, membangun usaha, menciptakan produk, serta membuka peluang kerja bagi masyarakat.
“Jangan sampai gelar sarjana hanya menjadi sebuah kebanggaan, tetapi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.
Abdul Faruk berharap para lulusan dapat menjadikan gelar yang diperoleh sebagai bentuk tanggung jawab untuk terus berkarya, mandiri, berinovasi, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Semangat tersebut juga menjadi refleksi dari perjalanan dirinya yang selama menjadi mahasiswa mampu memadukan aktivitas akademik, organisasi, kepemimpinan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain menyampaikan harapan kepada para calon wisudawan, Abdul Faruk juga menitipkan harapan kepada Fakultas Pertanian. Ia berharap FAPERTA UMMAT terus berbenah dan berkembang, baik dari sisi fasilitas, manajemen, maupun pelayanan akademik. Menurutnya, perubahan zaman menuntut lembaga pendidikan untuk terus beradaptasi dan berinovasi agar mampu melahirkan lulusan yang unggul dan kompetitif.
Ia berharap FAPERTA UMMAT dapat terus melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kompetensi, kreativitas, kepemimpinan, serta daya saing yang mampu membawa nama baik almamater ke tingkat nasional maupun internasional.
Perjalanan Abdul Faruk menjadi gambaran bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya diukur dari capaian akademik semata. Pengalaman organisasi sebagai demisioner Ketua BEM FAPERTA UMMAT, keterlibatan dalam pengabdian masyarakat melalui FBTV FAPERTA UMMAT, serta keberhasilannya meraih predikat Mahasiswa Terbaik I dengan IPK 3,66 menjadi kombinasi yang menunjukkan bahwa prestasi, kepemimpinan, dan pengabdian dapat tumbuh secara bersamaan.
Di penghujung penyampaiannya, Abdul Faruk mengajak seluruh teman-teman seperjuangan untuk melangkah dengan penuh keyakinan, membawa ilmu yang telah diperoleh, menjaga nama baik almamater, serta membuktikan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari pengabdian yang lebih luas.
“Terima kasih atas segala proses, terima kasih atas segala kebersamaan, dan terima kasih Fakultas Pertanian atas cerita yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup kita,” pungkasnya.
Kisah Abdul Faruk menjadi salah satu refleksi dalam momentum Yudisium FAPERTA UMMAT Periode September 2026 bahwa kesibukan dalam organisasi dan pengabdian bukanlah alasan untuk mengesampingkan prestasi akademik. Sebaliknya, ketika dijalankan dengan komitmen, manajemen waktu, dan tanggung jawab, pengalaman tersebut dapat menjadi bekal berharga untuk membentuk lulusan yang berprestasi, berjiwa kepemimpinan, peduli terhadap masyarakat, serta siap memberikan kontribusi nyata bagi dunia pertanian dan pembangunan di masa depan.
@adminfapertaummat
