Mataram, 7 Agustus 2026 - Dalam upaya memperkuat pembinaan karakter Islami sekaligus meningkatkan pemahaman nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan sivitas akademika, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram (FAPERTA UMMAT) kembali menyelenggarakan kegiatan Kaji-Mu Dosen & Pegawai. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda pembinaan keislaman yang sekaligus menjadi ruang refleksi, silaturahmi, dan penguatan nilai spiritual bagi seluruh dosen dan pegawai di lingkungan FAPERTA UMMAT. Kegiatan Kaji-Mu juga menjadi bagian dari upaya fakultas membangun budaya akademik yang tidak hanya berorientasi pada kompetensi profesional, tetapi juga pada pembentukan karakter dan akhlak.
Kegiatan Kaji-Mu dilaksanakan pada Jum'at, 7 Agustus 2026, bertempat di Ruang Rapat Senat Fakultas Lantai 3 Universitas Muhammadiyah Mataram. Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh dosen dan pegawai Fakultas Pertanian UMMAT. Kehadiran seluruh unsur fakultas menunjukkan antusiasme sekaligus komitmen bersama dalam mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan yang secara rutin dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan kehidupan Islami di lingkungan kerja.
Pada kesempatan kali ini, Kaji-Mu menghadirkan Ust. Saprun, M.Pd.I. sebagai narasumber dengan tema “Memaafkan Dalam Islam dan Integrasi Ilmu Pendidikan di UMMAT.” Tema tersebut mengangkat dua hal penting yang memiliki relevansi kuat dengan kehidupan sivitas akademika, yakni bagaimana Islam memandang sikap memaafkan serta pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam dunia pendidikan dan kehidupan akademik di Universitas Muhammadiyah Mataram.
Memaafkan sebagai Nilai Penting dalam Islam
Dalam pemaparannya, Ust. Saprun, M.Pd.I. mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa memaafkan merupakan salah satu nilai luhur yang diajarkan dalam Islam. Memaafkan bukan sekadar melupakan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, tetapi merupakan sikap yang membutuhkan keikhlasan, kesabaran, kelapangan hati, dan kesadaran untuk membangun hubungan yang lebih baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu tentu tidak terlepas dari perbedaan pendapat, kesalahpahaman maupun berbagai persoalan dalam berinteraksi dengan orang lain. Demikian pula dalam lingkungan perguruan tinggi, dinamika hubungan antarsesama dosen, pegawai, mahasiswa, dan unsur pimpinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan akademik.
Oleh karena itu, sikap saling memaafkan menjadi salah satu modal penting dalam menciptakan hubungan yang harmonis. Dengan membangun budaya saling memaafkan, setiap individu diharapkan mampu menghindari sikap menyimpan dendam, memperpanjang konflik, maupun membiarkan persoalan personal mengganggu hubungan profesional.
Lebih jauh, sikap memaafkan dapat menjadi bagian dari proses membangun ukhuwah Islamiyah. Ketika seseorang mampu membuka ruang untuk memaafkan dan memperbaiki hubungan, maka tercipta suasana yang lebih nyaman, saling menghargai, dan penuh dengan semangat kebersamaan.
Nilai tersebut menjadi semakin penting dalam lingkungan pendidikan. Dosen dan pegawai tidak hanya berperan dalam menjalankan tugas administratif maupun akademik, tetapi juga menjadi bagian dari lingkungan yang memberikan contoh kepada mahasiswa. Karena itu, keteladanan dalam sikap, tutur kata, dan perilaku menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.
Mengintegrasikan Nilai Islam dalam Dunia Pendidikan
Selain membahas makna memaafkan, kajian juga memberikan perhatian pada integrasi ilmu pendidikan dengan nilai-nilai Islam di UMMAT. Pendidikan pada hakikatnya tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang memiliki kecerdasan intelektual dan kompetensi profesional, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter, moral, akhlak, dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks perguruan tinggi Muhammadiyah, integrasi tersebut memiliki arti penting karena proses pendidikan diharapkan mampu berjalan seiring dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak ditempatkan secara terpisah dari nilai agama, tetapi diarahkan agar dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan masyarakat.
Integrasi ilmu dan nilai keislaman juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi memiliki iman, ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat tercermin dalam proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun dalam kehidupan sehari-hari sivitas akademika.
Bagi dosen dan pegawai, pemahaman tersebut menjadi penting karena mereka memiliki posisi strategis dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang humanis dan berkarakter. Setiap aktivitas di lingkungan kampus dapat menjadi bagian dari proses pendidikan, termasuk bagaimana membangun komunikasi, menyelesaikan perbedaan, memberikan pelayanan, serta menunjukkan keteladanan kepada mahasiswa.
Kaji-Mu sebagai Ruang Refleksi dan Penguatan Ukhuwah
Kegiatan Kaji-Mu berlangsung dalam suasana yang khidmat, hangat, dan penuh antusiasme. Para dosen dan pegawai mengikuti pemaparan materi yang disampaikan oleh narasumber dengan penuh perhatian. Tema yang diangkat dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan personal maupun dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab di lingkungan perguruan tinggi.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk melakukan refleksi terhadap sikap dan perilaku masing-masing. Nilai memaafkan, saling menghargai, menjaga hubungan baik, serta mengintegrasikan nilai agama dalam pekerjaan diharapkan dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kaji-Mu juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi antara dosen dan pegawai FAPERTA UMMAT. Di tengah berbagai tuntutan akademik dan administratif, ruang pertemuan seperti ini menjadi penting untuk membangun kebersamaan dan memperkuat hubungan antarsesama anggota fakultas.
Membangun Budaya Akademik yang Islami dan Berkemajuan
Pelaksanaan Kaji-Mu merupakan salah satu bentuk komitmen FAPERTA UMMAT dalam mengintegrasikan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ke dalam budaya akademik. Sebagai bagian dari perguruan tinggi Muhammadiyah, UMMAT terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang mampu memadukan keunggulan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keislaman. Hal tersebut sejalan dengan pola kegiatan Kaji-Mu FAPERTA sebelumnya yang menempatkan kajian sebagai sarana pembinaan spiritual, penguatan ukhuwah, sekaligus pembentukan budaya akademik yang religius.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para dosen dan pegawai semakin menyadari bahwa profesionalisme dalam bekerja perlu berjalan beriringan dengan kualitas moral dan spiritual. Kemampuan untuk memaafkan, menghargai perbedaan, menjaga hubungan baik, serta menerapkan nilai-nilai Islam dalam pekerjaan merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan akademik yang sehat dan produktif.
Lebih dari sekadar kegiatan kajian, Kaji-Mu diharapkan mampu menjadi gerakan pembinaan yang memberikan dampak nyata bagi kehidupan sivitas akademika. Nilai-nilai yang disampaikan tidak berhenti pada ruang kajian, tetapi dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari, baik dalam menjalankan tugas, memberikan pelayanan akademik, berkomunikasi dengan mahasiswa, maupun membangun hubungan antarsesama dosen dan pegawai.
Dengan adanya kegiatan tersebut, FAPERTA UMMAT terus berupaya membangun lingkungan akademik yang religius, humanis, profesional, harmonis, dan berkemajuan. Integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam diharapkan dapat menjadi fondasi dalam melahirkan sumber daya manusia yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian terhadap sesama.
Pada akhirnya, kegiatan Kaji-Mu Dosen & Pegawai FAPERTA UMMAT bersama Ust. Saprun, M.Pd.I. menjadi momentum penting untuk menguatkan kembali nilai memaafkan, keikhlasan, ukhuwah, dan integrasi ilmu dengan nilai-nilai Islam. Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh dan menjadi bagian dari budaya kehidupan akademik di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Mataram.
Melalui Kaji-Mu, FAPERTA UMMAT tidak hanya membangun insan akademik yang berilmu dan profesional, tetapi juga berupaya membentuk pribadi yang berakhlak, berintegritas, dan mampu menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.
@adminfaperta
